Membeli Banyak Untuk Berhemat, Bisakah?

“Uang adalah hamba yang baik, namun ia adalah tuan yang buruk.”

(Francis Bacon)

 

“Bund, pensilku sudah pendek. Perlu beli yang baru.”

“Sikat gigi sudah harus ganti, bulu sikatnya sudah nggak bagus.”

“Bunda, saos tomat yang di meja makan mana? Habis, ya?”

Kalimat dan pertanyaan ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi telinga seorang ibu yang merangkap sebagai “manajer keuangan keluarga”. Itulah salah satu alasan para penghuni rumah merasa perlu menyatakan atau menanyakan hal-hal kecil seperti di atas kepada sang ibu. Mengapa? Karena kebutuhan-kebutuhan itu akan terpenuhi dengan dikeluarkannya sejumlah uang dari sang “manajer keuangan keluarga”.

Jika harga pensil adalah 2.000 rupiah, akankah ibu memberikan uang pas 2.000 rupiah untuk anak pada saat itu? Jika harga sikat gigi adalah 11.000 rupiah, apakah kita akan mengeluarkan uang hanya seharga sikat gigi tadi? Apakah bisa dipastikan jika kita hanya mengambil pasta gigi dan tidak mengambil barang lain (sengaja ataupun tidak sengaja) ketika kita pergi ke mini market? Apakah kita hanya membeli sebotol saos tomat (karena ini yang diperlukan) ketika pergi ke warung? Yakinkah kita tidak tergoda membeli barang lain dengan alasan sekalian beli?

Berdasarkan pengalaman saya menjadi “manajer keuangan keluarga”, uang yang dikeluarkan (untuk barang yang dibeli) akan melebihi yang sebenarnya dibutuhkan. Seringkali saya mengeluarkan nominal yang lebih besar dari harga barang yang saat itu harus dibeli. Sejumlah uang itu justru dikeluarkan untuk barang/makanan yang tidak diperlukan. Uang selembar 50.000 hanya untuk membeli pensil (dan snacks anak), atau uang selembar 100.000 untuk membeli sikat gigi (dan barang “sekalian beli” yang tidak perlu). Kebiasaan tidak baik (bagi saya) ini yaitu ketika membeli sesuatu karena “sekalian beli’. Jika ini dilakukan sekali dua kali, mungkin tidak terlalu berpengaruh pada cash flow keuangan keluarga. Bayangkan, jika ini dilakukan 2 atau 3 kali seminggu. Tentu saja, akan ada pengeluaran banyak untuk “sekalian beli” yang sebenarnya adalah keinginan, bukan kebutuhan.

Bijak dengan Berbelanja Banyak

Berdasarkan pengalaman tadi, saya akhirnya menentukan cara berbelanja yang bijak. Cara ini memerlukan kerjasama semua anggota keluarga, karena keberhasilan cara ini ditentukan bersama. Lalu, apakah cara yang saya pakai untuk menentukan cara berbelanja bijak ini? Saya menyebutnya belanja banyak untuk berhemat. Ini berarti saya belanja barang-barang tertentu dengan jumlah banyak untuk keperluan dalam jangka waktu yang sudah direncanakan.

Ada 4 kategori barang-barang yang saya masukkan ke dalam daftar yang harus dibeli banyak. Pertama adalah toiletries, yaitu semua keperluan kamar mandi seperti sabun, sampo, pasta gigi, sikat gigi, sabun muka, dsb. Kedua adalah cleaning tools, yaitu alat-alat kebersihan untuk di dapur dan kamar mandi, termasuk deterjen dan pewangi pakaian. Ketiga adalah stationary (ATK), yaitu semua perlengkapan sekolah anak (pensil, pulpen, penghapus, penggaris, buku tulis, dsb.) dan perlengkapan lainnya seperti isolasi, double tape, lem, isi staples, dsb.. Keempat adalah camilan sehat (snacks) untuk penghuni rumah.

Untuk kategori pertama dan kedua, saya biasa membelinya untuk kebutuhan selama satu bulan. Jadi, untuk barang-barang yang termasuk kategori pertama dan kedua ini saya berbelanja bulanan. Untuk kategori keempat, saya berbelanja 2 mingguan. Supaya menghemat waktu, saya berbelanja kategori keempat bersamaan dengan belanja bulanan, tapi sekitar 2 minggu kemudian berbelanja lagi (hanya yang termasuk kategori keempat). Sedangkan untuk kategori ketiga, saya berbelanja setiap awal semester sekolah. Jumlah yang dibeli adalah keperluan untuk satu semester.

Barang-barang tadi (kategori pertama dan kedua) disimpan dalam kotak khusus sesuai kategorinya. Kami menamainya box of supply. Sedangkan untuk kategori ketiga disimpan di dalam laci meja kerja dan di atas meja kerja saya. Untuk kategori keempat, saya menyimpannya dalam sebuah laci besar menyatu dengan kitchen cabinet yang berada di ruang makan. Posisinya mudah dijangkau anak-anak. Anak-anak pun mengetahui tempat-tempat tersebut. Laci berisi makanan camilan ini seperti “warung snacks’ bagi anak-anak.

Cara seperti ini memerlukan proses dan waktu untuk dapat berjalan dengan baik. Sekali lagi, kerjasama seluruh penghuni rumah sangat menentukan keberhasilan cara bijak berbelanja banyak tapi hemat ini. Setelah berjalan cukup lama, kebiasaan ini menjadi hal positif bagi kami sekeluarga. Jika anak-anak memerlukan alat tulis, mereka tahu di mana bisa mengambilnya. Jika memerlukan camilan, ada laci besar yang mudah dibuka dan kita pun tidak perlu keluar rumah membeli ini dan itu.

Namun, saya tidak terlalu kaku untuk beberapa poin dari cara ini. Artinya, ada saat anak-anak saya biarkan pergi ke warung dekat rumah (setelah meminta izin, tentu saja) untuk membeli makanan yang berbeda. Biasanya mereka akan menggunakan uang saku sendiri untuk ini. Pembiaran ini saya lakukan dengan alasan khusus dan edukatif. Anak-anak pun perlu merasakan pengalaman bertransaksi di dunia nyata. Saya tahu bahwa ada pembelajaran di sana. Pengalaman (sesekali) ini tidak terlalu berpengaruh pada cara berbelanja banyak untuk berhemat, yang saya jelaskan sebelumnya.

Manfaat Berbelanja Banyak

Berbelanja sekaligus banyak untuk keperluan selama jangka waktu yang telah direncanakan, memberi manfaat bagi saya dan keluarga. Beberapa manfaat yang kami dapat itu antara lain sebagai berikut:

  1. Saya dapat merencanakan pengeluaran untuk berbelanja kebutuhan rutin semua penghuni rumah dan meminimalisasi kemungkinan membeli barang yang tidak diperlukan.
  2. Saya dapat menghemat waktu karena tidak harus ke supermarket/mini market/toko buku, setiap kali anak-anak, suami, atau saya memerlukan barang yang memang merupakan kebutuhan rutin.
  3. Anak-anak belajar mengelola kebutuhan rutinnya karena mereka saya libatkan ketika membuat shopping list, baik itu untuk belanja bulanan maupun belanja awal semester.
  4. Anak-anak belajar untuk menggunakan barang sesuai fungsinya sekaligus belajar untuk bertanggungjawab dengan barang-barang kebutuhannya.
  5. Saya lebih mudah mengatur camilan sehat yang dikonsumsi anak-anak, karena anak-anak memilih dan membelinya dengan sepengetahuan saya.
  6. Pengeluaran bulanan lebih mudah diatur karena “terbaca” pola pengeluarannya.

Seperti kutipan dari seorang filsuf di awal tulisan ini, uang adalah hamba yang baik jika kita mampu mengelolanya. Namun, jika tidak memiliki kuasa atau kontrol terhadap uang yang ada dalam pengelolaan kita, bersiap-siaplah kita yang dikuasai uang. Sesungguhnya uang adalah tuan yang sangat buruk. Efek jangka panjang jika kita dikuasai uang adalah kehilangan rasa aman (feeling secured) dan rasa bahagia dan syukur (feeling happy and grateful) dalam menjalani kehidupan. Bagaimanapun, uang hanyalah alat. Kitalah sang tuan itu, kita jugalah yang memiliki kuasa dalam pengelolaannya.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like