Surga Itu Bernama Keluarga

Be empty of worrying. Think of who created thought!

– Rumi – 

Hampir semua orang pasti setuju bahwa kita harus senantiasa berpikir positif. Bahkan, kata-kata motivasi tentang pentingnya memiliki cara berpikir dan bersikap positif sangat mudah kita temukan di banyak buku, artikel, dan akun media sosial. Namun, mengeksekusi kata-kata ternyata tidaklah semudah ketika kita membacanya, bukan? Lalu, benarkah bahwa tantangan untuk berpikir positif itu hadir justru ketika kita menghadapi masalah dalam kehidupan?

Bisakah kekuatan untuk berpikir positif ini kita munculkan ketika perubahan datang dalam kehidupan kita secara tiba-tiba? Sebut saja perubahan mendadak akibat adanya pandemi covid-19 di awal Maret 2020. Banyak aspek kehidupan normal kita terusik. Perencanaan yang telah tersusun rapi pun berantakan. Kehidupan yang semula kita sebut normal dan teratur, berubah menjadi ketidaknormalan. Ruang gerak seakan menjadi terbatas. Semua ikut terseret dalam perubahan cepat itu, tanpa kecuali. Bahkan, keluarga kecil kami pun mengalaminya.

Rumah Menjadi Dunia Kami

Lebih dari dua bulan menjalani kehidupan di tempat yang dibatasi tentu saja bukan hal yang mudah, terlebih bagi anak-anak yang memerlukan ruang gerak lebih luas. Bukan hanya itu, mereka pun perlu berkumpul dan bersosialisasi dengan teman-teman sebaya, namun social and physical distancing membatasi semua itu. Meskipun anak-anak secara berkala bertemu teman-teman dan guru melalui zoom meeting, pertemuan daring tentu tidak akan sama dengan berjumpa fisik dan bermain secara langsung.

Di saat-saat seperti inilah, ketahanan keluarga diuji. Harus menjalani masa pandemi covid-19 di rumah saja dan dengan batas waktu yang belum jelas adalah tantangan tersendiri bagi setiap penghuni rumah. Ketidakpastian akhir pandemi menambah kegelisahan dan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, bukan saja bagi anak-anak tapi juga bagi ayah dan bunda. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kita harus menyikapi perubahan tak terencana ini?

Kembali ke rumah (it’s a home, not just a house) dan keluarga adalah jawaban yang paling rasional saat ini. Rumah sebagai tempat teraman dan keluarga sebagai tempat saling menguatkan adalah satu-satunya pilihan yang paling masuk akal. Home adalah tempat yang menjanjikan ketenteraman dan kekuatan. Bukankah semua aktivitas para penghuninya berawal dari rumah? Pun, setelah aktivitas penghuni selesai, bukankah rumah adalah tempat kembali?

Namun, rumah seperti apa yang dapat kita jadikan home dan istana bagi raga, pikiran, dan hati kita? Siapakah yang memegang peran penting menciptakan rumah sebagai istana bagi penghuninya? Tentu saja, semua penghuni rumah memiliki perannya masing-masing. Layaknya sebuah organisasi, rumah dan keluarga pun melibatkan tanggung-jawab dan peran setiap penghuninya. Ayah yang berdiri di depan, memimpin keberlangsungan organisasi kecil ini, menuju visi dan misi keluarga. Bunda sebagai partner dalam pengelolaannya, berjalan bersama dalam ayunan langkah yang seirama. Lalu, ada anak-anak yang menjadi pendukung dan penggerak irama harmonisasi keluarga. Bukan hal yang mudah, tapi bukan pula sesuatu yang mustahil dilakukan.

Meja Makan Menjadi Pusat Kegiatan Kami

Jika banyak orang menyebut ruang tengah atau ruang keluarga sebagai living room, kami justru menghidupkan ruang makan sebagai pusat aktivitas para penghuni rumah. Meja makan yang identik dengan tempat disimpannya hidangan makanan, kami jadikan lebih dari sekadar tempat kami makan bersama.

  1. Tempat kami makan bersama

Sebagaimana fungsi sebenarnya dari meja makan, di tempat inilah keluarga kecil kami makan bersama. Duduk bersama menikmati hidangan dalam kesyukuran yang sebenarnya.

Di saat seperti inilah, orang tua dapat menyuntikkan semangat pada anak-anak. Di meja makan dan dalam suasana santai ini pula, nilai-nilai keluarga dapat ditanamkan pada mereka. Sering kali curahan hati anak-anak terungkapkan di sini. Ayah dan bunda mendengar, (berusaha untuk) tidak menghakimi. Jika anak-anak diharapkan untuk jujur dengan perasaan mereka, ayah dan bunda pun harus berbuat hal yang sama. It is okay not to be okay. Bukan hal yang tabu bagi orang tua untuk mengungkapkan perasaan mereka di hadapan anak-anak. Tentu saja ayah dan bunda harus dapat memilah dan memilih perasaan yang dapat diterima anak-anak. Ungkapkan sewajarnya, sehingga mereka pun dapat memahami keadaan yang sebenarnya.

  1. Tempat untuk mengadakan rapat keluarga

Untuk keluarga kecil kami, meja makan adalah ruang pertemuan mingguan. Setiap akhir pekan, makan malam menjadi momen yang dinanti para penghuni rumah. Di saat inilah, kegiatan mingguan dibicarakan bersama. Orang tua memang penentu setiap keputusan, namun anak-anak pun memiliki suara dan tentunya berhak untuk berpendapat.

  1. Tempat beraktivitas rutin ketika pandemi berlangsung (bekerja dan bersekolah)

Perubahan mendadak akibat pandemi covid-19 telah menambah fungsi meja makan kami. Sejak diberlakukan WFH (work from home) bagi ayah dan LFH (learn from home) bagi anak-anak, meja makan menjadi kantor sekaligus sekolah. Meskipun bekerja dari rumah bukan hal baru buat bunda, namun beradaptasi dengan perubahan tetap memerlukan waktu. Yang biasanya bunda mudah mengatur waktu untuk bekerja karena di rumah sendiri (setelah ayah pergi ke kantor dan anak-anak pergi ke sekolah), selama masa pandemi covid-19 ini rumah terasa riuh. Suasana menjadi ramai dan menyenangkan, sekaligus challenging buat kami semua.

Keluarga Menjadi Tempat Kami Saling Menguatkan

Perubahan mendadak yang mengharuskan kami untuk tinggal di rumah sedikit banyak berpengaruh pada kesiapan mental para penghuni rumah. Ayah, bunda, dan anak-anak dipaksa keadaan untuk beradaptasi cepat dengan perubahan ini.

Karena kami menyadari bahwa orang tua adalah role model bagi anak-anak, berdamai dengan diri sendiri adalah langkah awal kami. Ada masa ketika ayah cemas dengan ketidakpastian keadaan ini, ada pula masa bunda khawatir berlebihan tentang perkembangan anak-anak dengan perubahan mendadak akibat pandemi covid-19 ini. Alhamdulillah, kami tidak membiarkan diri larut dan terseret dalam kecemasan tak bermanfaat. Kami harus sehat raga, jiwa, dan hati karena anak-anak pastinya akan dapat “membaca” yang terjadi pada orang tua mereka.

Selesai dengan diri sendiri, ini adalah langkah pertama ayah dan bunda. Berdamai dengan keadaan dan berpegang serta percaya hanya pada Sang Maha Kuat. Berdamai di sini bukanlah bentuk kepasrahan semata. Namun, kami menyiapkan diri untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada. Mempersiapkan diri ini dimulai dari ayah dan bunda, karena anak-anak akan melihat kami sebagai contoh. Children see, children do.

Hal pertama yang kami lakukan adalah menerima perubahan ini sebagai bagian perjalanan hidup yang harus kami lalui. Kemudian kami mencoba “menghitung” kemudahan dan kenikmatan yang dimiliki sebelum “mempertanyakan” yang hilang dari kami. Ada momen kami mengeluhkan yang terjadi. Alih-alih keluhan itu menggerogoti kesehatan mental, kami memilih menghentakkannya jauh keluar dari rasa, pikiran, dan hati. Mudahkah itu? Tentu saja tidak. Namun, usaha untuk selalu bersyukur membuahkan hasil yang sepadan, yaitu ketenangan jiwa dan kebahagiaan diri.

Ketika orang tua bahagia, kebahagiaan itu akan terlihat oleh anak-anak. Getaran positif itu tertangkap oleh mereka, dan sebagai konsekuensi logisnya, anak-anak akan bahagia. Seperti Hukum Newton, kekuatan reaksi itu dihasilkan oleh aksi yang diberikan.

Penerimaan yang baik akan berbuah hal yang baik. Ketika rasa syukur itu selalu dihadirkan, maka menjalani rasa sabar pun akan sama nikmatnya.

Kuncinya ternyata ada pada dua kata: sabar dan syukur. Sungguh, dua kata ajaib ini mudah diucapkan, namun perlu usaha yang sangat kuat dalam menjalankannya.

Ketika ayah dan bunda dapat mengendalikan diri (pikir, rasa, dan hati), maka pengelolaan keluarga menjadi lebih mudah. Melibatkan anak-anak dalam beberapa perencanaan ternyata berdampak positif pada aktivitas keseharian mereka. Benar adanya, cara berpikir positif dapat menghantarkan gelombang positif. Pada saat bersamaan, getaran positif yang ditangkap anak-anak berbalik kembali pada ayah dan bunda. Tentu saja, selalu berpikir positif bukanlah magic yang dengan abracadabra, lalu terjadi begitu saja. Berpikir positif adalah proses belajar yang berulang. Proses tiada henti dari setiap penghuni rumah. Ayah dan bunda adalah kuncinya.

Kami menyadari bahwa yang dibutuhkan anak-anak adalah orang tua yang sehat. Bukan hanya sehat raga, tapi juga sehat rasa, pikir, dan jiwa. Menjaga hati untuk selalu bersih adalah perjalanan pembelajaran yang tiada akhir. Namun, kami percaya bahwa dalam prosesnya, orang tua sedang menebar benih-benih kebaikan pada jiwa anak-anak.

 Kami Belajar  dari Masa Pandemi Covid-19

Kami mendapatkan banyak hal positif selama menjalani kehidupan normal baru di masa pandemi covid-19 ini. Banyak kegiatan keluarga yang sebelumnya sulit dilakukan karena keterbatasan waktu, sekarang dapat kami jalani secara rutin.

Sebelum adanya pandemi covid-19, rapat keluarga hanya satu minggu sekali. Sekarang, setiap hari kami dapat membahas kegiatan dan rencana-rencana kami. Jika sebelum pandemi covid-19 kami sholat sendiri sendiri dan jarang bisa sholat berjamaah lima waktu, sekarang kesempatan itu selalu ada.

Kedekatan para penghuni rumah menjadi lebih terasa ketika semua dapat menghabiskan banyak waktu bersama. Beberapa pekerjaan pun dapat dilakukan tanpa terhalang alasan adanya perubahan ini.

Pada akhirnya, pandemi covid-19 ini semakin menegaskan bahwa begitu banyak hal yang dulu terlewatkan untuk disyukuri. Kebersamaan di rumah selama sekian bulan dan masih akan berlangsung ini juga membuat kalimat home is where your heart is menjadi nyata adanya.

Jika kebahagiaan itu datangnya dari hati yang selalu bersyukur dan bersabar, rumah dan keluarga adalah surganya kebahagiaan itu. Itulah yang keluarga kecil kami rasakan. Bagaimana dengan Anda?

Tulisan saya ini ada dalam buku antologi yang telah diterbitkan tahun 2020 dengan judul Corona, Go Away.
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like