Pasukan Kecil Sayang Bumi

“We are living in a crucial time. The future of our planet depends on the actions we take today.”

(Unknown)

Bumi kita sedang menderita. Rumah tempat kita tinggal sedang butuh pemulihan dan itu harus segera dilakukan. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada planet Bumi yang kita sayangi ini. Tidak mungkin kita pindah ke planet lain, bukan? Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang sehingga masa depan Bumi menjadi lebih baik?

The Healing Earth, sebuah buku tentang kepedulian para penulisnya pada lingkungan dan bumi tercinta.

Seperti dikatakan dalam kalimat awal tulisan ini, aksi nyata memperbaiki Bumi tidak dapat ditunda lagi. Masa depan planet yang menjadi rumah umat manusia ini bergantung pada aksi nyata yang kita lakukan hari ini.

Jika kita mendengar tentang kerusakan planet Bumi, sepertinya itu adalah hal besar dan jauh di luar jangkauan kita. Namun, sesungguhnya langkah kecil kitalah yang dapat menjadi penentu kelestarian Bumi. Semua hal besar harus kita mulai dari langkah kecil di setiap keluarga, setiap rumah. Tentu saja kerja sama yang manis dan padu antara orang tua dan anak-anak menjadi awal yang baik.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dengan melibatkan anak-anak. Menyayangi bumi hanya akan terasa abstrak bagi anak-anak, kecuali kita dapat membuatnya menjadi nyata dan mudah dilakukan sehari-hari. Bahkan mungkin mereka tidak akan perlu lagi penjelasan teoritis tentang alasan kita harus melakukan ini dan itu untuk menjaga bumi.

Pendidikan sederhana dapat kita mulai sejak dini dari rumah. Pembiasaan membuang sampah pada tempat sampah dapat kita ditanamkan pada anak-anak bahkan sejak mereka belum memahami alasannya. Memberi teladan dengan cara mencontohkan adalah langkah yang paling baik. Dimulai dari melihat contoh dari kita, dilanjutkan dengan pembiasaan perilaku baik tadi, dengan harapan akan menjadi satu kebiasaan baik yang melekat pada anak-anak.

Cara paling mudah menanamkan kedisiplinan pada anak adalah dengan memberikan mereka contoh. Bukan sekadar contoh sekali dua kali, tapi perilaku yang sudah menjadi kebiasaan kita. Terlalu berlebihan jika kita mengharapkan anak untuk berperilaku baik jika yang kita perlihatkan adalah sebaliknya. Bukankah demikian? Jadi, kita bisa mulai dengan selalu membuang sampah pada tempat sampah, sekecil apa pun sampah kita.

Tempat sampah organik, non-organik, dan B3 (gambar oleh my third born, the wonderful boy)

Untuk memudahkan anak-anak, selain tempat sampah besar di dapur kami juga tempatkan beberapa tempat sampah kecil di ruang-ruang yang selalu digunakan oleh anak-anak. Misalnya, di setiap kamar anak, ada tempat sampah kering. Di ruang tengah, juga kami tempatkan tempat sampah kering.

Demikian juga di mobil, tempat sampah tertutup selalu ada untuk memudahkan kami ketika dalam perjalanan. Jadi kami dapat membuang sampah sementara, sebelum kami buang nanti di tempat sampah ketika telah sampai tujuan. Jadi, tidak ada kejadian membuang sampah keluar lewat jendela mobil. Sungguh, perilaku demikian adalah tindakan yang dilakukan orang “bodoh” dan tidak peduli lingkungan, bukan?

Hal sederhana lain yang dapat kita lakukan adalah dengan membiasakan anak-anak selalu membawa botol minum sendiri jika mereka harus berkegiatan di luar rumah. Ini tidak sulit dilakukan anak-anak karena mereka sudah terbiasa membawa tumbler sendiri jika pergi sekolah, bukan? Setidaknya, ini yang dilakukan anak-anak saya. Di sekolah pun, mereka mudah untuk mengisi ulang tumbler tersebut karena ada dispenser air minum di kelas masing-masing. Selain itu, ada pula beberapa dispenser air minum di kantin yang ditempatkan di sana untuk memudahkan para siswa mengisi ulang botol minumnya.

Jika membawa botol minum sendiri sudah menjadi kebiasaan, kita bisa tambahkan dengan membawa alat makan (sendok, garpu, dan sedotan aluminium) dari rumah. Awalnya memang terlihat repot, tapi lama-lama kebiasaan ini akan menjadi mudah. Dengan program sayangi bumi ada di mana-mana, tentu saja kebiasaan membawa botol minum dan alat makan sendiri dari rumah tidak lagi terasa “aneh”. Bahkan, bisa dikatakan bahwa kebiasaan ini adalah perilaku keren.

Lalu, apa tujuan kebiasaan ini? Kebiasaan sederhana ini adalah langkah kecil yang kita lakukan untuk mengurangi sampah plastik. Berapa banyak botol minum kemasan dan sedotan bekas yang kita buang dan menjadi sampah? Mungkin seperti sepele dengan sampah satu sedotan, tapi bayangkan jika kita lakukan berulang dan penggunanya juga banyak orang. Betapa banyaknya sampah plastik yang dapat kita kurangi dengan memiliki kebiasaan membawa sendiri dari rumah (dan bukan dari bahan plastik sekali pakai). Jika kebiasaan baik ini ditularkan ke banyak orang, akan lebih banyak lagi sampah plastik yang dapat kita kurangi.

Kebiasaan-kebiasaan baik yang kita tanamkan pada anak-anak sejak dini akan berdampak besar bagi perilaku mereka. Jika kebiasaan baik ini mengakar, mereka dapat menjadi teladan teman-temannya. Lambat-laun, langkah kecil dari satu keluarga ini akan menjadi contoh yang ditiru banyak orang. Semakin lama, langkah kecil ini akan menjadi awal dari sesuatu yang besar, perilaku baik sebagai bentuk kepedulian pada lingkungan.

Bumi tempat kita tinggal adalah planet yang kita pinjam dari anak cucu kita.

(Hera)

Sudah seharusnya kita jaga dan lestarikan, karena pada satu masa kita harus kembalikan Bumi ini pada generasi anak dan cucu kita. Saya sudah memulainya dari rumah, bagaimana dengan Anda?

 

 

 

0 Shares:
12 comments
  1. Bener banget bunda, melalui hal yang sederhana kita mampu menjaga kelestarian bumi sejak dini agar menjadi disiplin dan pemahaman bahwa menjaga bumi itu merupakan kewajiban bukan sekedar sewajarnya. Sehingga kelestarian bumi akan senantiasa terjaga sampai anak cucu nantinya.

  2. Pembiasaan sejak dini akan berdampak hinga dewasa ini. Setuju jika semua bermula dari rumah, termasuk untuk peduli sampah. Kelihatan sederhana tapi kalau semua melakukannya akan besar dampaknya. Inspiratif, Mbak…langkah kecil yang bisa berpengaruh pada bumi kini dan di masa depan

  3. Alhamdulillah malah anakku yg peduli sampah banget. Dia pilah, yang organik dibikin kompos. Aku malah engga setelaten dia.
    Memilah sih. Sayangnya oleh tukang sampah RW ya digabung lagi di gerobaknya. Sami mawon atuh…
    Yawda, kukumpulin, kasihkan ke pemulung aja…

  4. Setuju, memelihara bumi bisa dimulai dari rumah. Melakukan hal sekecil apapun bisa menyelamatkan bumi. Anak-anak saya juga sudah diajarkan untuk memilah sampah. Supaya mereka lebih peduli dengan kelestarian bumi

  5. Bener banget mbak, semua bisa dimulai dari hal terkecil dan rumah adalah awalnya. Membiasakan sejak anak masih kecil akan tertanam hingga mereka beranjak dewasa.

  6. Sampah plasti di rumah sudah saya pisah, sih mbak. Minimal kiami memulai dari dapur rumah sendiri.
    Hihi, benar juga sih mbak, nggak perlu juga kan ya kita pindah ke planet lain karena Bumi yang kita tinggali makin kotor?
    Mari mulai jaga Bumi dari langkah kecil.
    Nice sharing mb

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like