Being Reborn

“The easiest way to be reborn is to live and feel life everyday.”

(Munia Khan)

Dulu saya suka sekali membaca cerita detektif dan petualangan anak seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, dll. Ada satu lagi yang menarik yaitu buku yang ceritanya bisa kita pilih sendiri. Ketika tokoh cerita harus memutuskan sesuatu dan ada dua pilihan, pembaca bisa menentukan pilihannya. Misal, jika dia harus memutuskan A bukalah halaman 25, jika dia memutuskan B bukalah halaman 38. Buku cerita seperti itu membuat pembaca ikut terlibat dalam keputusan si tokoh walaupun pada akhirnya ending cerita sama dan tentunya sudah ditentukan penulis buku itu. Sering kali setelah satu cerita selesai, saya kembali dari halaman pertama dan memilih pilihan cerita berbeda dari sebelumnya.

Jika itu tentang hidup, akankah saya memiliki keinginan untuk melakukan hal sama seperti ketika membaca buku tadi? Memulai dari halaman pertama kehidupan (jika itu bisa)? Mungkin dulu saya penasaran dengan setiap langkah yang dijalani secara berbeda. Pertanyaan dan pernyataan seperti ini mungkin pula akan muncul: What would’ve happened if I did that differently? I could’ve done this. I should’ve done that.

Jika cerita di buku itu tentang hidup, pilihan-pilihan itu ada sebagai hasil keputusan dalam hidup yang kita buat sebelumnya. Namun, akhir cerita sudah ditentukan oleh pemilik cerita hidup kita. Pertanyaannya, apa yang akan saya lakukan jika diberi kesempatan membaca ulang hidup saya dari halaman pertama? Apakah saya pun akan melakukan hal sama ketika membaca buku yaitu mencari dan menjalani cerita hidup yang berbeda?

Sekarang saya melihatnya dengan ‘kacamata’ yang berbeda. I become who I am now because of some decisions I’ve made before. Segala hal baik dan kesempatan bagus tidak tiba-tiba hadir dalam hidup. Semua yang telah saya lakukan, baik itu kebaikan maupun kesalahan, telah terjadi dan tidak mungkin saya undo. Justru kebaikan dan kesalahan masa lalu itu yang mengantarkan saya pada kesempatan dan pilihan-pilihan hidup sekarang. Would I change it? No. Do I regret what I’ve done? No.

Bagi saya, dilahirkan kembali bukanlah tentang masa lalu yang harus diubah. Dilahirkan kembali berarti melakukan hal berbeda sebagai bentuk pemahaman akan pelajaran dari masa lalu, dimulai dari titik sekarang. Seperti kutipan di awal tulisan ini, saya pun menikmati setiap detik kehidupan yng telah dan sedang dijalani. Biarkanlah warna-warna kehidupan hadir dalam hidup dan saya coba maknai setiap langkahnya. Tidak ada yang ingin saya ubah tentang apa pun yang telah terjadi dalam hidup. Alasannya sederhana, semua yang telah terjadi membuat saya menjadi seperti sekarang ini. One thing for sure, I’m happy to be me.

Jika banyak orang mengatakan life begins at forty itu tentang kesuksesan yang berhubungan dengan pekerjaan, jabatan, harta, dan segala hal lainnya yang kasat mata, saya justru melihatnya dengan perspektif berbeda. Pada usia matang ini, justru hal-hal demikian bukan lagi menjadi prioritas. Perasaan bahagia dan damailah yang dimiliki. Ketenangan inilah yang dijalani. Bukan satu kebetulan jika beberapa hari lalu saya mendapatkan penguatan lewat kegiatan Majelis Ilmu Komunitas menulis Bersama. Saya didapuk menjadi moderator, menemani Kak Osvita yang berbagi tentang Five Tips to Enjoy Life pada usia matang.

Secara alami dan memang hukum alam bahwa seiring bertambah usia, kondisi fisik, psikologis, dan peran sosial pastinya akan mengalami perubahan. Tidaklah bisa disamakan dengan diri 10 atau 15 tahun lalu. Namun, menjadi bahagia menjalani hidup tentu saja hak setiap individu terlepas dari usia yang dimiliki. Satu hal yang pasti adalah mindset tentang menjalani hidup dengan bahagia.

Saya meyakini bahwa untuk bahagia, setidaknya dua hal harus dimiliki, yaitu rasa sabar dan rasa syukur. Sabar di sini memiliki arti suatu penerimaan akan kondisi diri disertai usaha/ikhtiar secara optimal untuk mencapai kondisi terbaik yang dapat dilakukan. Syukur adalah wujud penerimaan kondisi dengan rasa terima kasih pada Sang Pemilik Diri. Perasaan bersyukur diejawantahkan dengan penerimaan yang penuh dan pemaknaan yang dalam tentang diri, hidup, dan kehidupan.

*Ini tulisan lima tahun lalu yang saya tulis ulang.
#catatanhera #lifeisajourney #lifeiswonderful

 

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like