Tentang Rasa

Roses are red and violets are blue
The earth is sad, is it because of you?

 

Hanya ada dua hal dalam hidup; kelahiran dan kematian. Itu saja. Dan kejadian-kejadian di antara dua hal itu adalah juga tentang kelahiran dan kematian. Ada kelahiran posisi/jabatan baru di pekerjaan yang biasa disebut job promotion. Ada kelahiran keluarga baru yang kemudian disebut pernikahan. Ada kelahiran suasana baru, kelahiran rasa, dan seterusnya.

Pun dengan kematian. Dengan penamaan yang berbeda, tentu saja. Ada kematian peran di masyarakat ketika seseorang tidak menjabat lagi. Ada kematian posisi di pekerjaan ketika sudah pensiun. Ada kematian rasa (terjadi secara alami atau dipaksakan), ada kematian suasana, dan seterusnya.

Kelahiran hampir selalu ditandai dengan perasaan yang kurang lebih sama yaitu bahagia, suka cita, dan sejenisnya. Sebaliknya, kematian selalu diartikan dengan kesedihan, kehilangan, duka cita, dan perasaan lain semacam itu.

Uniknya, rasa itu ternyata sangat individual, sangat personal. Satu peristiwa bisa dimaknai tidak sama oleh dua orang yang berbeda. Satu peristiwa yang sama adalah “kematian” bagi seseorang dan “kelahiran” untuk yang lain.

Dan hari ini, “kematian” itu datang tak terelakkan. Rasa yang terpaksa harus disimpan jauh ke satu sudut hati terdalam. Kemudian dikunci rapat dan kuncinya dibuang jauh ke dasar lautan. Tidak benar-benar mati sebenarnya, karena “kematian” yang satu ini sangat tak diinginkan. Terpaksa dan dipaksakan. Tak mengapa.

Pada saat yang bersamaan, “kelahiran” terjadi. Awalnya adalah kelahiran rasa yang mengacak-acak untuk selanjutnya merobek hati. Seandainya bisa, mungkin akan lebih mudah untuk meng-undo atau cukup di-reset. Tapi itu tidak mungkin.

Selanjutnya, hati mencoba menerima saran logika yang sudah mengingatkan kemungkinan ini jauh sebelum peristiwa “kelahiran” dan kemudian “kematian” (yang dipaksakan) itu datang. Setelah sekian lama hati dan logika berkeras kepala. Ya, lama dan hampir tak berujung. Entah apa yang ia cari. Sama tidak pastinya dengan yang ingin ia buktikan. Bagaikan limbic system dan cerebral cortex yang saling mengkhianati.

Tak perlu logika mengatakan, “See, I told you so.”

Tapi hati masih punya satu pertanyaan, “How can I lose you if you’re not even mine?

First written on Sunday, 5 March 2016, and had been posted on Fb

 

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like